Kapal-kapal bersandar di tepi pantai, lambaian pohon kelapa ditepian pesisir akibat angin yang berhembus tenang, deru ombak seolah menjadi nyanyian yang menenangkan. Para nelayan berbondong-bondong menuju armada membawa hasil laut, pun para pelancong dengan wajah berbinar nampak bersemangat menuruni kapal-kapal besar. Berduyung-duyung turun bak segerombolan domba keluar dari kandang.
Tujuh pemuda duduk diatas batu karang menatap keramaian dibawah sana. Pemuda yang duduk di ujung kanan dengan tekspresi tersenyum puas dengan setangkai ilalang di mulutnya menatap pemuda di sampingnya. Lalu kemudian membuka suara.
“Itu adalah kapal terakhir.” Tunjuk pemuda yang mulutnya sibuk mengigit ilalang.
Andi Panenrung Daeng Pabbiring atau akrab dipanggil dengan Panenru. Putra ke 4 dari 7 bersaudara, anak dari Karaeng Arung Lassa Daeng Tuminasa.

Panenru pemuda yang humoris, dan berjiwa bebas. Diantara banyaknya bersaudara hanya dia yang mampu meluluhkan hati Tetta mereka yang keras.
“Kira-kira kapan kapal-kapal itu memulai pelayaran untuk kembali ke tanah mereka?” tanya Lembana. Menatap anak tertua yang duduk di paling ujung di sisi kiri. Lembana paling tahu bahwa si sulung yang paling banyak tahu tentang kapal.
Semilir angin bertiup menyapu wajah ketujuh pemudah tersebut. Rambut mereka bergoyang searah dengan arah angin yang berhembus.
Lembana si anak kedua masih setia menunggu jawaban dari pertanyaanya yang menggantung di udara.
“Mungkin 3 atau 4 bulan lagi,” Jawab pemuda yang tengah sibuk membenarkan songkok milik pemuda yang lebih kecil darinya.
Dia adalah Andi Rappang Daeng Mappangewa. Anak ke 5 yang bijak dan sangat berbudi luhur serta tegas.

Lembana mengangguk paham. Namun, ia tidak bisa mengalihkan tatapannya pada Andi Kamase Daeng Riala, anak pertama yang kelak meneruskan kepemimpinan Tetta mereka dalam memimpin dan menjaga tanah mereka di masa depan.
“Bagaimanakah rasanya mengarungi lautan dengan kapal-kapal megah itu?” Gumam Riala.

Matanya yang jernih menatap kapal-kapal mewah yang bersandar di pelabuhan, kapal besi yang mengapung terlihat begitu mencolok diantara perahu-perahu kayu para nelayan yang nampak sederhana. Kapal itu berwarna hitam dan putih disertai lampu-lampu yang berkerlap-kerlip nampak nyata di penghujung hari.
“Bukankah, Daeng sudah tahu rasanya berlayar ditengah lautan bersama dengan para nelayan. Bagaimanapun kapal tetaplah kapal, tidak akan berbeda kalau sudah di laut,” pungkas Bala.
Pemuda bertubuh kekar yang duduk di dekat Riala juga menatap kapal besar yang terus sibuk menurunkan penumpang dan peti-peti yang mereka yakini adalah barang dagangan khas negara seberang.
Bala, bernama lengkap Andi Bala Daeng Tuminasa. Ia adalah anak ke tiga, berjiwa bebas sama dengan Panenru. Sebagian besar harinya dia habiskan di luar Bola. Pasar adalah tempat yang paling ia sukai.
“Tentu saja Beda, Bala… Berlayar dengan niatan berbeda jelas tidak akan sama. Bukan lagi berlayar untuk menangkap ikan-ikan di lautan.
“Tetapi aku hendak berlayar dengan niat berkeliling ke seluruh benua sama seperti orang dulu,” Jawab Riala. Matanya berbinar menatap lautan tanpa batas dihadapannya. Nampak jelas ada semangat yang berkobar di benaknya.

Mendengar suara yang begitu menggebu-gebu dari Riala, pemuda yang duduk dekat Rappang menatapnya dengan tatapan polos namun penasaran.
“Bukankah laut itu menyeramkan. Daeng?, apa yang membuatmu begitu sangat ingin berlayar berkeliling dunia?”

Sebut saja nama pemuda itu Andi Mattampa Daeng Salebba. Si bungsu yang akrab di panggil Matta, punya hobi aneh berbicara dengan hewan dan tumbuhan, serta punya sifat yang amat sangat manja terutama kepada saudara ke 5 yakni, Rappang.
“Tidak Matta.” Rialang, menggeleng tegas lantas menatap lembut si bungsu.
“Lupakah kau, Bahwa moyang kita adalah pelaut ulung. Mereka mengarungi samudera hanya dengan perahu Phinisi! Laut adalah Rumah kita!,” ujar Riala dengan semangat menggebu-gebu. Riala bahkan kini sudah berdiri di hadapan keenam saudaranya sambil menunjuk laut lepas di depan sana.
Keenam saudara menatap wajah Riala yang terlihat begitu bahagia ketika menjelaskan tentang mimpinya untuk menjadi seorang pelaut.
Memang sudah sejak dulu Riala begitu ingin menjadi seorang pelaut. Bermula ketika nenek buyut mereka membagikan kisah perjalanannya waktu muda. Dimana, kala itu moyangnya berhasil sampai ke Australia dan bertemu dengan suku Aborigin hanya berbekal perahu kecil. Kisah itu ternyata mengispirasi Riala untuk menjadi seorang pelaut namun pada tingkat yang lebih tinggi yakni, menjadi nahkoda kapal uap.
“Itu berbahaya, Daeng,” ujar Baso yang sejak tadi hanya diam.